Cara Produksi Garam Yang Berkualitas

Latar Belakang

Permasalahan yang ada pada produksi garam rakyat saat ini adalah kurangnya kualitas dan kuantitas terhadap kebutuhan garam nasional seiring dengan bertambahnya penduduk dan pesatnya perkembangan industri terhadap kebutuhan garam, hal ini ada beberapa  permasalahan pokok yang perlu diselesaikan secara bersama oleh instansi yang terkait dengan produksi garam nasional, adapun permasalahan tersebut diantaranya adalah tentang teknologi dan teknis produksi.

 

Teknologi Peningkatan Kualitas

Untuk meningkatkan kualitas garam dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satu dengan menggunakan geomembran atau geoisolator.  Geomembran adalah bahan yang berfungsi sebagai tahan air , terbuat dari HDPE ( Hight Density Polyethylene ) atau LDPE ( Low Density polyethylen ) . Geomembrane terbuat dari bahan tahan air, tahan terhadap korosi, minyak, asam dan panas tinggi. Pembuatan geomembrane dimulai dengan produksi bahan baku, yang meliputi resin polimer itu sendiri: berbagai adiktif seperti antioksidan, plasticizers, pengisi, karbon hitam, dan pelumas sebagai alat bantu pengolahan. Bahan-bahan baku (yaitu, “formulasi”) yang kemudian diolah menjadi lembaran geomembrane berbagai ukuran dan mengental dengan salah satu dari tiga cara, ekstrusi, calender, dan pelapisan menyebar.

Geomembran dalam bidang pergaraman dapat diaplikasikan pada meja garam atau meja kristalisasi sehingga garam – garam yang dihasilkan tersebut tidak langsung bersentuhan dengan tanah. Dengan menggunakan geomembran selama musim garam maka petambak garam dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil produksi garamnya. Produksi garam dengan menggunakan geomembran menghasilkan garam yang berwarna putih, bersih dan berbobot.

Selain menggunakan geomembran, untuk memaksimalkan hasil produksi garam maka tata letak lahan tambak garam juga perlu diperhatikan. Tata letak lahan tambak garam yang perlu dilakukan perubahan yaitu kolam penampungan air muda, kolam peminihan, kolam ulir, kolam penampungan air tua dan meja kristalisasi. Dari perubahan lahan tersebut akan dapat meningkatan produksi yang sangat nyata yaitu mencapai 40% hingga 60% hal ini disebabkan dari perbandingan luas lahan dimana 35 % luas lahan digunakan untuk kolam penampung air tua, kolam peminihan, kolam ulir dan kolam penampung air tua, sedangkan 65 % digunakan untuk meja kristal, selain produksi meningkat keuntungan yang lain dari sistim semi intensif ini adalah masa produksi yang lebih cepat dimana dalam waktu 14 hari akan cepat didapat air tua sedangkan pada lahan tradisional untuk mendapatkan air tua sampai 30 hari.

 

Sumber : Kharisma Firdaus L, S.Kel (PPB Kab. Pati)

Share