PENGOLAHAN LAHAN TAMBAK GARAM

Memilih Lokasi Tambak

Apabila di wilayah pesisir akan dikembangkan menjadi lokasi tambak garam maka ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan didalam menentukan tingkat kesesuaian lokasi yaitu berdasarkan aspek Ekologis dan aspek Tanah.

 

  1. Aspek Ekologis
  2. Sumber daya air laut

Air laut merupakan bahan utama yang digunakan untuk membuat garam. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan kaitannya dengan sumber daya air laut yaitu : kadar garam, bersih, derajat keasaman (pH), dan polusi/ pencemaran.

 

  1. Pasang surut air laut

Pasang surut laut pada lokasi tambak garam jangan melebihi dari 1 meter karena akan sulit mendapatkan stok air laut yang akan ditampung pada bak penampungan air muda.

 

  1. Iklim dan cuaca

Proses terbentuknya kristal garam adalah proses penguapan pada tambak garam yang disebabkan oleh sinar panas matahari, sehinga untuk mendapatkan produksi garam yang bagus sebaiknya lokasi tambak garam pada satu wilayah dipilih dengan musim kemarau yang panjang atau lebih dari 5 bulan dalam satu tahunnya. Karena bila satu wilayah tambak garam curah hujannya terlalu tinggi atau musim penghujannya panjang akan didapat produksi garam yang rendah atau bisa dikatakan wilayah tersebut tidak cocok untuk lokasi tambak garam.

Ada beberapa unsur yang mempengaruhi keadaan cuaca dan iklim suatu daerah atau wilayah, yaitu: suhu atau temperatur udara, tekanan udara, angin, kelembaban udara, dan curah hujan.

 

  1. Angin

Di area tambak garam angin sangat berpengaruh sekali terhadap proses terbentuknya Kristal garam disamping penyinaran panas matahari, karena angin mampu membawa uap air baik pada siang hari maupun malam hari.

 

  1. Kelembaban udara

Kelembaban udara adalah banyaknya uap air yang terkandung dalam massa udara pada saat dan tempat tertentu, sehingga bila satu daerah tinggkat kelembabannya terlalu tinggi maka proses kristalisasi akan terhambat atau lebih lama.

 

  1. Curah hujan

Curah hujan ini sangat berpengaruh sekali terhadap proses penguapan air laut yang berada dtambak garam, karena bila curah hujan tinggi disuatu wilayah berarti wilayah ini tidak cocok untuk area tambak garam.

 

  1. Evaporasi

Proses pembentukan garam dari air laut merupakan salah satu proses dari evaporasi yang dibantu oleh penyinaran matahari. Penguapan atau evaporasi adalah proses perubahan molekul di dalam keadaan cair (contohnya air) dengan spontan menjadi gas (contohnya uap air). Sisa penguapan pada larutan yang mengandung mineral tertentu ini akan menjadi Kristal-kristal garam mineral. Proses ini adalah kebalikan dari kondensasi. Umumnya penguapan dapat dilihat dari lenyapnya cairan secara berangsur-angsur ketika terpapar pada gas dengan volume signifikan.

  1. Aspek Tanah
  2. Topografi

Topografi sebaiknya landai, memiliki pasang surut <1 m untuk mempermudah memperoleh air aut.  Topografi  sebaiknya juga dipilih di tempat yang mempunyai elevasi tertentu agar memudahkan pengolahan air sehingga tambak cukup mendapatkan air pada saat terjadi pasang harian tanpa menggunakan pompa.

 

  1. Tekstur tanah

Tekstur tanah yang baik untuk lahan pegaraman adalah bertekstur liat berat dengan sedikit pasir halus, hal ini penting untuk konstruksi dan menghindari adanya kebocoran karena perembesan atau porousitas air. Bebas dari gangguan binatang/tumbuhan liar. Bebas dari bencana alam.  Sifat fisis dengan permeability rendah dan  tanah tidak mudah retak.

Pengolahan Lahan Tambak Garam

Penjelasan :

  1. Pengecekan Pematang, hal ini harus dilakukan untuk mengetahui apakah pematang tersebut telah rusak atau tidak.
  2. Perbaikan Saluran Air, saluran air ini merupakan hal yang penting saat proses produksi garam. Letak saluran ini disesuaikan dengan kondisi lahan dan arah angin.
  3. Membuang air yang ada di meja garam, jika meja garam yang akan di olah masih ada air maka air tersebut harus dibuang terlebih dahulu.
  4. Perataan Meja Garam, kondisi meja garam haruslah rata dan padat sebelum proses produksi di mulai.
  5. Pengeringan Meja Garam, setelah meja garam rata kemudian dikeringkan.

 

Sumber : Kharisma Firdaus L, S.Kel (PPB Kab. Pati)

Share