PEMBENIHAN IKAN MAS

Ikan mas merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan memanjang pipih kesamping dan lunak. Ikan mas sudah dipelihara sejak tahun 475 sebelum masehi di Cina. Di Indonesia ikan mas mulai dipelihara sekitar tahun 1920. Ikan mas yang terdapat di Indonesia merupakan ikan mas yang dibawa dari Cina, Eropa, Taiwan dan Jepang. Ikan mas Punten dan Majalaya merupakan hasil seleksi di Indonesia.

Kegiatan pembenihan ikan terdiri dari : seleksi induk, pemijahan, penetasan telur, perawatan larva, pendederan, dan pemanenan. Pembenihan untuk tiap jenis ikan yang dibudidayakan berbeda-beda. Berikut ini adalah tahapan dalam pembenihan ikan mas/tombro.

 

  1. SELEKSI INDUK

Kualitas benih yang dihasilkan sangat ditentukan dari kualitas induk yang dipijahkan.

Adapun ciri-ciri induk jantan dan induk betina unggul yang sudah matang untuk dipijah adalah sebagai berikut :

  1. Betina: umur antara 1,5-2 tahun dengan berat berkisar 2 kg/ekor; Jantan: umur minimum 8 bulan dengan berat berkisar 0,5 kg/ekor;
  2. Bentuk tubuh secar akeseluruhan mulai dari mulut sampai ujung sirip ekor mulus, sehat, sirip tidak cacat;
  3. Tutup insang normal tidak tebal dan bila dibuka tidak terdapat bercak putih; panjang kepala minimal 1/3 dari panjang badan; lensa mata tampak jernih;
  4. Sisik tersusun rapih, cerah tidak kusam;
  5. Pangkal ekor kuat dan normal dengan panjang pangkal ekor harus lebih panjang dibandingkan lebar/tebal ekor.

 

Sedangkan ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah sebagai berikut :

  1. Betina
    • Badan bagian perut besar, buncit dan lembek;
    • Gerakan lambat, pada malam hari biasanya loncat-loncat;
    • Jika perut distriping mengeluarkan cairan berwarna kuning.
  2. Jantan
    • Badan tampak langsing;
    • Gerakan lincah dan gesit;
    • Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.

 

  1. PEMIJAHAN

Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemijahan ikan mas:

  1. Dasar kolam tidak berlumpur, tidak bercadas;
  2. Air tidak terlalu keruh; kadar oksigen dalam air cukup; debit air cukup; dan suhu berkisar 25 °C;
  3. Diperlukan bahan penempel telur seperti ijuk atau tanaman air;
  4. Jumlah induk yang disebar tergantung dari luas kolam, sebagai patokan seekor induk berat 1 kg memerlukan kolam seluas 5 m²;
  5. Pemberian makanan dengan kandungan protein 25%. Untuk pellet diberikan secara teratur 2 kali sehari (pagi dan sore hari) dengan takaran 2-4% dari jumlah berat induk ikan.

 

Langkah-langkah persiapan dalam proses pemijahan adalah sebagai berikut :

  • Kolam pemijahan dikeringkan, kemudian dipasang hapa ukuran 2×1,5×1 m ;
  • Masukkan kakaban (ijuk yang dijepit bambu) ukuran 1,5×0,4 m. Pemasangan kakaban dilakukan pada bagian tengah kolam, semua kakaban diletakkan pada sebatang bambu bulat dengan diikat pada patok atau tiang bambu yang ditancapkan kuat-kuat sampai menembus dasar kolam. Satu ekor induk betina berat 3 kg membutuhkan 8 kakaban;
  • Pasang saringan dari kawat kasa pada pintu pemasukan air;
  • Masukkan air sampai ketinggaian 0,75- 1 m;
  • Masukkan induk jantan dan betina yang siap memijah dengan perbandingan berat 1:1. Waktu yang tepat untuk memasukkan induk-induk hasil seleksi ke kolam pemijahan adalah antara jam 09.00 atau 10.00. Pelepasan induk pada pagi hari akan lebih cepat terangsang sehingga lebih cepat melakukan pemijahan;
  • Ikan akan memijah pada tengah malam hingga menjelang pagi. Induk betina yang sudah waktunya memijah akan mengeluarkan telur-telurnya dan selang beberapa saat langsung dibuahi oleh cairan sperma yang keluar dari alat kelamin induk jantan, selama proses pemijahan air harus tetap mengalir agar kandungan oksigen terlarut cukup tersedia.

 

  1. PENETASAN

Telur-telur ikan dapat ditetaskan di kolam penetasan atau hapa. Kegunaan hapa adalah untuk melindungi telur ikan dari predator dan untuk memudahkan pemanenan benih.

Kegiatan penetasan telur adalah sebagai berikut :

  • Siapkan kolam penetasan yang sudah dipasang hapa;
  • Kolam penetasan diisi dengan air sampai ketinggian 20 cm dibawah permukaan hapa.
  • Air tidak boleh keruh dan harus mengandung oksigen tinggi (6-8 ppm);
  • Angkat kakaban dari kolam pemijahan dan bersihkan dari lumpur;
  • Pasang kakaban pada kolam penetasan dan diberi pemberat hingga tenggelam 5 cm di bawah permukaan air;
  • Aliran air jangan terlalu deras;
  • Telur akan menetas 3-4 hari tergantung suhu.

 

 

  1. PERAWATAN LARVA

Dua hari setelah telur menetas atau larva sudah lepas dari kakaban, angkat kakaban lalu dikeringkan. Selanjutnya, siapkan makanan benih berupa larutan (suspensi) kuning telur.

Cara membuat larutan (suspensi) kuning telur adalah sebagai berikut :

  • Bungkus kuning telur ayam dalam kain halus;
  • Remas-remas bungkusan dengan sedikit air (1/4 liter untuk 1 butir telur);
  • Pakan diberikan 5 x sehari. Satu butir telur per-hari untuk 100.000 benih.

 

Perawatan larva di dalam hapa berlangsung hingga benih berumur 4-5 hari. Selanjutnya benih disebut lepas hapa.

 

  1. PENDEDERAN

Pendederan dilakukan setelah telur-telur hasil

pemijahan menetas. Kegiatan ini dilakukan pada kolam pendederan yang sudah siap menerima anak ikan dimana kolam tersebut dikeringkan terlebih dahulu serta dibersihkan dari ikan-ikan liar. Kolam diberi kapur 50-100 gr/m² dan pupuk kandang 500-700 gr/m². Begitu pula dengan pemberian pakan untuk bibit diseuaikan dengan dengan ketentuan.

Pendederan ikan mas dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu:

  • Tahap I: umur benih yang disebar sekitar 5-7 hari(ukuran1-1,5 cm); jumlah benih yang disebar=100-200 ekor/ m²; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih menjadi 2-3 cm;
  • Tahap II: umur benih setelah tahap I selesai; jumlah benih yang disebar=50-75 ekor/m²; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih menjadi 3-5 cm;
  • Tahap III: umur benih setelah tahap II selesai; jumlah benih yang disebar=25-50 ekor/m²; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih menjadi 5-8 cm; perlu penambahan makanan berupa dedak halus 3-5% dari jumlah bobot benih;
  • Tahap IV: umur benih setelah tahap III selesai; jumlah benih yang disebar=3-5 ekor/m²; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih menjadi 8-12 penambahan makanan berupa dedak halus 3-5% dari jumlah bobot benih.

 

Sumber : Yunita Dyah Istanti, S.Kel (PPB Kab. Pati)

Share