BUDIDAYA IKAN GURAMI

Ikan gurami merupakan jenis ikan air tawar yang cukup berpotensi besar untuk dibudidayakan. Ikan gurami sendiri sangat disukai masyarakat Indonesia terutama karena dagingnya yang enak dan tebal.

Umumnya budidaya ikan gurami masih dilaksanakan oleh masyarakat dengan teknologi semi intensif. Masa pemeliharaanya relatif lama sehingga dilakukan dalam beberapa tahap pemeliharaan yaitu tahap pembenihan, tahap pendederan dan tahap pembesaran, dimana pada masing-masing tahapan menghasilkan produk yang dapat di pasarkan secara tersendiri.

Budidaya ikan gurami memerlukan kolam penyimpanan induk, kolam memijahan, kolam/bak penetasan dan pemeliharaan benih, kolam pendederan, kolam pembesaran dan kolam pemberokan (penyimpanan sebelum di pasarkan). Sebelum dilakukan kegiatan budidaya, perlu dilakukan pembuatan kolam yang meliputi antara lain pembuatan pematang, saluran pemasukan air dan saluran pembuangan air, pintu pematang air, pintu pembuangan air, caren dan kowean (sering pula disebut kemalir dan kobakan), serta pengolahan dasar kolam dengan pupuk dan kapur. Setelah kolam siap untuk digunakan, baru dilakukan kegiatan pembenihan, pendederan dan pembesaran ikan gurami.

 

  1. PERSIAPAN KOLAM

Tahap persiapan kolam untuk pembenihan, pendederan maupun pembesaran prinsipnya hampir sama, hanya dibedakan pada padat tebar dan jenis pakan yang diberikan serta ketinggian air yang dibutuhkan. Konstruksi kolam dan

pengolahan lahan pada setiap tahap sama.

  1. Pembuatan kolam

Bentuk pematang dibuat trapesium yaitu lebih lebar di bagian bawah. Untuk membuat kolam dilakukan pencangkulan guna membalik tanah dasar dengan “keduk teplok”, yaitu memperdalam saluran dan pemetakan kolam yang sekaligus memperbaiki pematangnya, sehingga ketinggian air kolam nantinya mencapai 60 m. Setelah itu membuat caren dengan lebar 30 cm dan dalam 30 cm, yang berfungsi sebagai tampat pengumpulan benih pada saat air kolam dangkal atau surut dan untuk menggiring benih ke kowean saat panen

Pada saat persiapan pembuatan kolam dilakukan juga pengeringan dasar kolam. Setelah dasar kolam kering, diberikan kapur dengan dosis 100-200 gr/m2 dan pupuk kandang 500-1.000 gr/m2. Pupuk kandang yang cukup baik untuk digunakan adalah kotoran ayam karena memiliki unsur hara yang lengkap untuk menumbuhkan pakan alami, mudah terurai dan kandungan amoniaknya tidak terlalu tinggi. Pemupukan dilakukan untuk menyuburkan tanah sekaligus menumbuhkan pakan alami seperti Fitoplankton, Zooplankton dan Bentos yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan larva dan benih ikan gurami. Setelah itu dilakukan pengisian air dan dibiarkan selama 7 hari untuk memberi kesempatan pupuk terurai dan menumbuhkan pakan alami bagi benih gurami. Persediaan pakan alami ini dapat memenuhi kebutuhan benih ikan selama 11 s.d 14 hari.

 

  1. PEMILIHAN BIBIT

Tahap berikut dalam budidaya ikan ini adalah pengadaan bibit gurame. Ada dua sumber memperoleh bibit gurame yakni pembibitan sendiri atau beli dari pembenih lainnya.

Benih ideal siap tebar berukuran tiga jari orang dewasa. Kalau bibit terlampau kecil, dikhawatirkan tingkat kematian cukup tinggi karena sulit beradaptasi dengan kondisi air dalam kolam.

Berikut adalah beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan benih :

  1. Kondisi benih sehat, tidak cacat/luka, tubuh tidak kaku, dan gerakannya lincah;
  2. Warna tidak terlalu hitam;
  3. Sisik tubuh lengkap atau tidak ada yang lepas;
  4. Secara visual, benih yang sehat akan terlihat terbalik posisinya di dalam wadah angkut atau bak penampungan (bagian kepala mengarah ke dasar).

 

  1. PENDEDERAN

Setelah kolam siap benih ditebar pada pagi atau sore hari untuk mencegah stres. Sebelum ditebar, benih diadaptasi terlebih dahulu dengan air kolam. Caranya, biarkan wadah benih mengapung di permukaan air kolam sehingga terjadi penyesuaian suhu. Setelah itu, buka wadah agar benih keluar dengan sendirinya dan masuk ke kolam. Langkah adaptasi perlu dilakukan agar gurami tidak stres ketika masuk ke kolam baru.

Sedangkan padat penebaran benih gurami di kolam berdasarkan ukuran benih, yaitu sebagai berikut :

Tabel padat penebaran benih gurami berdasarkan ukuran tubuh

No. Ukuran benih Padat penebaran (ekor/m²)
1 1-2 cm 80
2 2-4 cm 60
3 4-6 cm 40
4 6-8 cm 30
5 8-11 cm 15-20

 

  1. PEMBERIAN PAKAN  

Pakan sebagai sumber energi dan materi bagi kehidupan dan pertumbuhan ikan. Gurami merupakan ikan pemakan segala atau dapat dikatan sebagai omnivora. Ikan ini lebih menyukai pakan yang ada di permukaan dan sifatnya cenderung ke arah noktunal (aktif saat gelap). Secara umum, kriteria pakan yang baik adalah pakan yang memiliki kandungan gizi/nutrien dan memenuhi kebutuhan energi yang dibutuhkan ikan untuk pertumbuhan dan perkembangan. Pakan gurami dewasa bisa diberi pellet. Bisa juga dengan dedaunan seperti daun talas, daun ketela singkong, daun pepaya, daun kangkung, daun ubu jalar, dan lain sebagainya. Pakan diberi dua kali sehari,  pagi hari dan sore hari, pemberian pakan sebaiknya selang-seling tak hanya satu jenis saja. Pagi dedaunan nanti sore diganti pellet. Pemberian pakan yang teratur bisa mempercepat pertumbuhan.

 

  1. PANEN 

Panen merupakan tujuan akhir dari kegiatan budidaya. Masa panen ikan gurame adalah 7- 8 bulan, atau ketika bobot ikan mencapai 0,7 kg- 1 kg, ukuran itu ideal untuk dikonsumsi. Dari tebaran 1000 ekor bibit, diprediksi saat panen menghasilkan 200 kwintal.

Pada panen ukuran konsumsi dapat dijual dalam kondisi ikan hidup dan ikan segar. Adakalanya ikan konsumsi ini akan lebih mahal harganya bila dijual dalam keadaan hidup. Cara yang mudah untuk dilakukan adalah dengan cara jaring direntangkan dan ditarik secara perlahan-lahan. Prinsipnya untuk memperkecil ruang gerak ikan sampai terkumpul di salah satu sisi kolam. Kemudian satu per satu ikan ditangkap dengan hati-hati, lalu dimasukkan ke wadah penampungan. Top of Form Sebelum diangkut ikan sebaiknya dipuasakan selama 1-2 hari.

 

Sumber : Yunita Dyah Istanti, S.Kel (PPB Kab. Pati)

Share