Budidaya Cacing Sutera Dari Limbah Kolam Lele

I.     PENDAHULUAN

Keberhasilan usaha pembenihan ikan lele sangat tergantung pada persediaan pakan alami berupa cacing sutra (Tubifex sp.) yang sementara masih mengandalkan pencarian dari alam yaitu dari parit saluran air yang banyak mengandung bahan organik sisa dari limbah pasar atau limbah rumah tangga. Ketersediaan cacing sutra di alam tidak kontinyu sepanjang tahun, terutama pada musim penghujan akan sulit mendapatkannya.

Budidaya cacing sutra merupakan langkah alternatif karena kalau menggunakan pakan hidup berupa artemia untuk pembenihan ikan lele menjadi kurang ekonomis. Usaha budidaya cacing sutra terjadi berdasarkan pengamatan pengamatan pada saat pemanenan pembesaran ikan lele konsumsi mengalami masalah untuk membuang air limbah organik yang kemudian ditampung di kolam yang kurang produktif. Hal ini dilakukan berulang kali setiap panen ikan, secara tidak sengaja di kolam tersebut mulai terlihat banyak cacing yang tumbuh dan berkembang.

Cacing sutra mudah untuk dikenali dari bentuk tubuhnya yang seperti benang sutra dan berwarna merah kecoklatan karena banyak mengandung hemoglobin. Tubuhnya sepanjang 1 – 2 cm, terdiri dari 30 – 60 segmen atau ruas. Berkembang biak pada media yang mempunyai kandungan oksigen terlarut berkisar antara  2 – 5 ppm, kandungan ammonia <1 ppm, suhu air berkisar antara 28 – 30 °C dan pH air antara 6 – 8. Cacing sutra (Tubifex sp) ini bersifat hermaprodit, pada satu organism mempunyai 2 alat kelamin.

 

II.     PROSES BUDIDAYA

Tahapan dalam kegiatan budidaya cacing sutra adalah sebagai berikut   :

1.     Pengolahan lahan.

Kolam yang kurang produktif untuk budidaya ikan dikeringkan dan diolah, kemudian masukkan air limbah dari pembuangan hasil pembesaran ikan lele. Luas kolam yang digunakan berkisara antara 60-100 m².

2.    Pengendapan air.

Air yang masuk di endapkan selama 3-5 hari. Setelah di endapkan air yang tergenang diturunkan hingga 5 – 10 cm dari permukaan lumpur kemudian lumpur diratakan dengan sorok sehingga permukaan lumpur menjadi rata dan dibiarkan selama beberapa hari. Proses ini di ulangi 2 – 3 kali hingga lumpur halus yang ada di kolam cukup banyak.

3.    Penebaran benih.

Tebar bibit cacing indukan sebanyak 10 gelas (2-3 liter), kemudian airi dengan ketinggian 5-7 cm.

4.    Perawatan.

Selama masa pemeliharaan air di usahan mengalir kecil sehingga ketinggian air pada 5-10 cm. Setelah 10 hari biasanya bibit cacing sutra mulai tumbuh halus dan merata di seluruh permukaan lumpur dalam kolam. Ulangi lagi proses penambahan air buangan panen ikan lele ke dalam kolam budidaya cacing sutra maka setelah 2-3 bulan cacing mulai dapat dipanen.

 

III.     PANEN

Pemanenan pertama dapat dilakukan setelah 75-90 hari. Untuk selanjutnya dapt dipanen setiap 15 hari.

Proses pemanenan cacing sutra yaitu dengan cara menaikkan ketinggian air sebesar 50-60 cm kemudian cacing dan lumpur di keruk dengan caduk dimasukkan dalam baskom kemudian dicuci dengan saringan. Cacing yang didapat masih bercampur dengan lumpur dimasukkan ke dalam ember atau bak yang berisi air, kira-kira 1 cm diatas media budidaya/lumpur. Ember ditutup hingga bagian dalam menjadi gelap dan dibiarkan selama 1 – 2 jam. Cacing akan bergerombol diatas media dan dapat diambil dengan tangan untuk dipisahkan dari media/lumpur kemudian dimasukkan dalam bak pemberokan selama 10-12 jam. Cacing siap di berikan kepada benih ikan ataupun dijual.

 

Sumber : Yunita Dyah Istanti, S.Kel (PPB Kab.Pati)

Share